Minggu, 07 Februari 2010

MEMAHAMI KARAKTERISTIK ANAK DALAM MENGATASI MASALAH BELAJAR MURID DI SEKOLAH DASAR

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Keberhasilan proses pembelajaran di sekolah antara lain ditentukan oleh ketepatan pemahaman guru terhadap perkembangan murid. Pemahaman terhadap perkembangan murid tersebut, dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi dan proses pembelajaran yang membantu murid mengembangkan perilaku-perilakunya yang baru. Kenyataan menunjukkan bahwa pada setiap murid memiliki karakteristik pribadi atau perilaku yang relatif berbeda dengan murid lainnya. Keragaman perilaku ini mengandung implikasi akan perlunya data dan pemahaman yang memadai terhadap setiap murid.

Menurut Piaget (1896-1980). Anak adalah seorang yang aktif, membentuk atau menyusun pengetahuan mereka sendiri pada saat mereka mengeksplorasi lingkungan dan kemudian tumbuh secara kognitif terhadap pemikiran-pemikiran yang logis. Setiap murid khususnya di sekolah dasar memiliki perbedaan antara satu dan lainnya, disamping persamaannya perbedaan menyangkut kapasitas intelektual, keterampilan, motivasi, persepsi, sikap, kemampuan minat, latar belakang kehidupan dalam keluarga, dan lain-lain. Perbedaan ini cenderung akan mengakibatkan adanya perbedaan dalam belajar setiap murid, baik dalam kecepatan belajarnya maupun keberhasilan yang dicapai murid itu sendiri.

Perkembangan dan karakteristik anak pada usia sekolah dasar berbeda-beda. Antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, karakteristik anak pada masa kelas rendah, berbeda pada masa kelas tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran anak usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi sudah bisa mengembangkan keterampilan kognitif, dan sudah dapat berfikir, berkreasi secara luas.

Murid datang ke sekolah dengan harapan agar bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Tetapi tidak selamanya demikian. Berbagai masalah yang mereka hadapi, bersumber dari ketegangan karena ketidakmampuan mengerjakan tugas, keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya tetapi tidak mampu, persaingan dengan teman, kemampuan dasar intelektual kurang, motivasi belajar yang lemah, kurangnya dukungan orang tua, guru yang kurang ramah dan lain-lain. Masalah tersebut tidak selalu dapat diselesaikan dalam situasi belajar mengajar di kelas, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh guru di luar situasi proses pembelajaran.

Gejala-gejala munculnya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagi bentuk. Ia dapat muncul dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau dalam menurunnya hasil belajar perilaku yang menyimpang. Juga muncul dalam berbagai bentuk seperti: suka mengganggu teman, merusak alat-alat pelajaran, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, menangis atau sering bolos. Meskipun perilaku yang menyimpang dapat merupakan indikasi (petunjuk) adanya kesulitan belajar, namun tidak semua perilaku yang menyimpang dapat disamakan munculnya kesulitan belajar. Untuk membedakannya pengalaman guru dalam menangani hal ini sangat diperlukan.

Faktor utama yang melandasi kebutuhan akan layanan bimbingan di SD ialah faktor karakteristik dan masalah perkembangan siswa. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di SD dalam mengatasi masalah belajar, karena pendekatan ini lebih berorientasi kepada penciptaan lingkungan perkembangan bagi murid, dan berdasar kepada suatu program layanan yang terstruktur dan sistematis. Peran dan fungsi serta tanggung jawab guru di SD selain mengajar juga perlu memperhatikan keragaman karakteristik perilaku murid sebagai dasar penentuan jenis bantuan dan layanan dalam bimbingan belajar baik secara individual maupun kelompok.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimana Memahami Karakteristik Anak Dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid Di Sekolah Dasar ?”.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Karakteristik Anak di Sekolah Dasar

1. Memahami Karakteristik Anak di Sekolah Dasar

Masa usia SD (sekitar 6-12 Tahun) ini merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Karena itu, guru tidaklah mungkin mengabaikan kehadiran dan kepentingan mereka. Ia akan selalu dituntut untuk memahami betul karakteristik anak Sekolah Dasar . Karakteristik anak usia sekolah dasar secara umum sebagaimana dikemukakan Bassett, Jacka, dan Logan (1983) berikut ini:

a. Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri.

b. Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira/riang

c. Mereka suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru

d. Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidak puasan dan menolak kegagalan-kegagalan

e. Mereka belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi

f. Mereka belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif dan mengajar anak-anak lainnya.

Masa usia SD ada yang mengatakannya sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6 tahun hingga kira-kira usia sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan mulailah sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para pendidik mengenal masa ini sebagai “Masa Sekolah”, oleh karena itu pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal.

Seorang ahli berpendapat lagi bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar, maupun masa matang untuk sekolah. Di sebut masa anak sekolah, karena sudah menamatkan taman kanak-kanak. Disebut masa matang untuk belajar, karena mereka sudah berusaha untuk mencapai sesuatu tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktifitasnya itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena mereka sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru yang dapat diberikan oleh sekolah. Ada yang berpendapat bahwa masa usia sekolah sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik dari pada masa sebelumnya dan sesudahnya. Menurut pendapat ini, masa keserasian bersekolah ini dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu :

a. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai umur 9 atau 10

Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain :

1) Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dan prestasi sekolah.

2) Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang tradisional.

3) Ada kecenderungan memuji sendiri.

4) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.

5) Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.

Pada masa ini (terutama pada umur 6-8 ) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

b. Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, yaitu kira-kira umur 9 atau 10 sampai kira-kira umur 12 atau 13.

Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut :

1) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit; hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.

2) Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar.

3) Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh ahli-ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor.

4) Sampai kira-kira umur 11 anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya, untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi keinginannya; setelah kira-kira umur 11 pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya sendiri.

5) Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah.

6) Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang tradisional; mereka membuat peraturan sendiri.

Dengan memperhatikan segi individualitas dan karakteristik anak usia sekolah dasar serta berbagai dimensi perkembangannya, maka seorang guru tidak asal suka begitu saja mengembangkan pengajaran di sekolah/di kelasnya. Ia dituntut dalam mengembangkan sistem pengajarannya, tidak menyimpang dari prinsip-prinsip psikologis yang ada. Kenyataan ini, menjadi alasan kuat mengapa sistem pengajaran yang dikembangkan guru diharapkan akan semakin dapat melayani kebutuhan peserta didik individual (individually guided education) dan pengajaran itu benar-benar menjadi menarik dan bermakna bagi anak.

2. Aspek-aspek Psikologis dan Fisik dalam Memahami Karakteristik Anak di SD

Dalam memahami karakteristik anak di SD maka aspek-aspek psikologis dan fisik yang penting dalam perkembangan pada masa anak sekolah diuraikan antara lain beberapa cirinya seperti faktor intelektual, faktor kognitif, faktor verbal dan faktor emosi.

1. Faktor Intelektual

Faktor intelektual dari murid ialah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang / simbol (huruf, angka, kata, gambar).

Intelektualisme bisa diartikan sebagai akal atau pikiran. Pikiran mempunyai kedudukan yang boleh dikata menentukan. Karena itulah kewajiban kita para pendidik, disamping mengembangkan aspek-aspek lain dari anak-anak didik kita untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya bagi perkembangan pikiran itu. Berfikir dan bahasa adalah demikian erat hubungannya, karena itu perkembangan bahasa yang baik adalah syarat yang harus dipenuhi untuk perkembangan pikiran yang baik. Pada waktu murid belajar, murid juga dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, namun tanpa melalui pengamatan dan ke organisasi dalam pengamatan. Problem ini harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu. Proses jalannya berfikir dari siswa melalui pembentukan pengertian logis, dimana siswa dalam membentuk pengertian logis ini sebelumnya menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis, kemudian membanding-bandingkan ciri-ciri mana yang tidak sama, mana yang selalu ada atau tidak selalu ada, mana yang hakiki dan mana yang tidak.

Menurut Gagne 1967 Kemahiran intelektual seseorang semakin meningkat, dengan semakin menguasai cara berfikir yang tidak berperaga. Dalam berfikir tidak berperaga sangat menonjollah manfaat dari apa yang disebut “Kemahiran Intelektual”, dimana orang memperoleh pemahaman dan menggunakan konsep, kaidah dan prinsip. Di sini pula terdapat “Berfikir Intelektual” yaitu berfikir dengan mencari dan menggunakan pemahaman melalui penguasaan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu. Demikian juga pemahaman semacam itu disebut “Pemahaman Intelektual”.

2. Faktor Kognitif

Ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, entah objek itu orang, benda atau kejadian / peristiwa. Oleh karena itu kemampuan kognitif ini, murid dapat menghadirkan realitas dunia di dalam dirinya sendiri, dari hal-hal yang bersifat material dan berperaga seperti perabot rumah tangga, kendaraan, bangunan dan orang, sampai hal-hal yang tidak bersifat material dan berperaga seperti ide “Keadilan, Kejujuran” dan lain sebagainya. Jelaslah kiranya, bahwa semakin banyak pikiran dan gagasan dimiliki seseorang, semakin kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu. Adapun termasuk dalam aktivitas kognitif ini yaitu :

1. Mengingat adalah suatu aktivitas kognitif, dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimasa lampau. Ada dua bentuk mengingat yaitu : mengenal kembali dan mengingat kembali. Murid dapat belajar untuk mengingat kembali dengan lebih baik, terutama dengan memperlihatkan dan mempelajari materi yang harus diingat kelak dengan sungguh-sungguh.

2. Berfikir, siswa berhadapan dengan objek-objek yang diwakili dalam kesadaran. Jadi, orang tidak langsung menghadapi objek secara fisik seperti terjadi dalam mengamati sesuatu bila melihat, mendengar dan meraba. Dalam berfikir, objek hadir dalam bentuk representasi. Bentuk-bentuk representasi yang paling pokok adalah tanggapan pengertian atau konsep dan lambang verbal.

3. Faktor Verbal

Yang dimaksudkan faktor verbal pada masa usia sekolah adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bahasa. Oleh karenanya masa pra sekolah merupakan periode yang kritis dalam pola pengembangan bahasa anak. Masa pra sekolah atau masa kanak-kanak akhir merupakan usia yang ideal untuk belajar keterampilan-keterampilan yang tidak hanya berguna baginya pada masa itu akan tetapi juga merupakan pondasi bagi keterampilan-keterampilan tinggi yang terkoordinasi yang diperlukan di kemudian hari. Anak merasa senang mengulang-ulang sesuatu kegiatan sampai benar-benar menguasainya. Ia suka berpetualang, tidak merasa takut terhadap ancaman-ancaman bahaya ataupun cemoohan teman-teman.

4. Faktor Emosional

Masa pra sekolah merupakan periode memuncaknya emosi yang ditandai dengan munculnya “Tantramus” rasa takut yang kuat, dan meledaknya cemburu yang tidak beralasan. Pada masa ini telah terlihat perbedaan-perbedaan dalam emosi dan pola ekspresinya dapat ditafsirkan dengan segera. Ketegangan emosi pada anak-anak ini sebagian disebabkan oleh kelelahan karena terlalu lama bermain, kurang tidur siang, dan terlalu sedikit makan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan jasmaniah. Kebanyakan anak-anak merasa bahwa mereka sanggup melakukan lebih banyak lagi daripada apa yang diperbolehkan orang tua dan mereka membangkang terhadap pembatasan-pembatasan yang diberlakukan terhadap dirinya.

Menginjak masa sekolah, anak segera menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Dengan demikian ia mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar mengendalikan, dan mengungkapkan emosinya.

Stagner 1961 menunjukkan bahwa jika guru selalu dalam ketegangan psikologis maka murid-muridnya pun mengalami ketegangan psikologis seperti yang dialami gurunya. Guru yang pemarah, pengomel dan cerewet, menyebabkan muridnya meniru tingkah laku gurunya itu, dan hal ini menimbulkan gangguan perkembangan emosi anak.

Semakin bertambah umur anak, ia akan memperlihatkan pengulangan respon emosionalnya yang semakin meningkat yang dikenal oleh orang dewasa sebagai gembira, marah, takut, cemburu, bahagia, ingin tahu, iri dan benci. Bentuk-bentuk tingkah laku emosional ini dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan yang luas, termasuk manusia, benda dan situasi pada mulanya tidak berpengaruh.

Emosi-emosi yang telah disebutkan di atas tidaklah merupakan emosi yang siap sedia atau siap pakai sejak lahir. Emosi itu harus berkembang dan dikembangkan. Perlindungan emosional dipengaruhi oleh dua fakta yakni kematangan dan belajar. Jadi, oleh kedua-duanya, bukan hanya oleh satu dari padanya. Kenyataan bahwa reaksi emosional tertentu tidak muncul sejak awal kehidupan, tidak berarti bahwa itu tidak dibawa sejak lahir. Mungkin emosi itu akan berkembang belakangan sesuai dengan kematangan intelegensi si anak atau bersamaan dengan perkembangan sistem indoktrin. Melalui belajar, objek dan situasi yang pada mulanya tidak menimbulkan respons emosional di kemudian hari mungkin menimbulkan respons rasional. Jenis-jenis emosi yang umum pada masa kanak-kanak yaitu :

1) Takut

Adanya rasa takut pada anak-anak adalah baik selama rasa takut itu tidak terlalu kuat dan hanya merupakan peringatan terhadap bahaya. Sayangnya kebanyakan anak-anak belajar takut terhadap hal-hal yang tidak berbahaya, dan rasa takut ini menjadi penghambat terhadap tindakan yang mungkin sekali sangat berguna ataupun menyenangkan.

2) Cemas

Cemas ialah suatu bentuk rasa takut yang bersifat khayalan. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulus dari lingkungan si anak. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang dikhayalkan / diimajinasikan akan terjadi. Tapi dapat pula asalnya dari buku-buku, film, komik, radio, ataupun cara-cara rekreasi populer lainnya

3) Marah

Marah merupakan reaksi emosional yang lebih sering terjadi pada masa kanak-kanak oleh karena :

a. Lebih banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan dalam kehidupan anak daripada stimulus yang menimbulkan rasa takut

b. Banyak anak-anak yang pada usia muda telah menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapatkan perhatian atau memuaskan keinginannya.

4) Cemburu

Cemburu merupakan respon yang normal terhadap kehilangan nyata ataupun ancaman terhadap kehilangan kasih sayang.

5) Kegembiraan, Kesenangan dan Kenikmatan.

Kegembiraan dalam bentuknya yang lebih lunak dikenal sebagai ketenangan, kenikmatan atau kebahagiaan, merupakan emosi yang positif oleh karena individu yang mengalaminya tidak melakukan usaha untuk menghilangkan situasi yang menimbulkannya.

6) Kasih Sayang

Kasih sayang atau cinta adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang anak terhadap orang lain terjadi secara spontan dapat ditimbulkan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun.

7) Ingin Tahu

Minat terhadap lingkungan sangat terbatas selama usia dua atau tiga bulan pertama dari kehidupan terkecuali bila stimulus yang kuat ditujukan terhadap si bayi. Setelah usia itu, apa saja yang baru atau aneh baginya, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahu.

3. Faktor Pendukung Keberhasilan Guru dalam Memahami Karakteristik Anak

Usaha memahami anak didik akan berhasil dengan baik, jika guru memiliki sifat-sifat, kemampuan, dan keterampilan tertentu yang merupakan faktor pendukung keberhasilannya. Oleh karena itu guru perlu memiliki faktor-faktor pendukung tersebut. Faktor-faktor pendukung yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :

a. Kasih sayang yang dalam kepada anak didik, terutama anak yang mengalami kegagalan dan menampilkan tingkah laku yang menyimpang dalam belajar. Kasih sayang tanpa pamrih, menjadi tenaga pendorong yang sangat kuat bagi guru untuk membantu anak didik, sehingga keseriusan dalam melaksanakan usaha memahami anak terjadi.

b. Kesadaran akan tanggung jawabnya untuk membantu perkembangan anak. Guru menyadari bahwa tugasnya adalah menjadikan anak didiknya berkembang optimal, maka ia pun menyadari bahwa salah satu tugasnya yang penting adalah membantu anak agar dapat mengatasi kesulitan yang dialami dalam mencapai perkembangan yang optimal.

c. Kesabaran yang tinggi dalam melakukan usaha memahami, maupun menunggu hasil usaha. Memahami anak memerlukan waktu yang relatif panjang dan ketekunan. Hal ini disebabkan guru bekerja dengan “jiwa”, atau tingkah laku yang sangat kompleks. Tingkah laku anak yang ditampilkannya sekarang bukanlah terbentuk semalam, tetapi melalui sejarah perkembangan yang panjang. Itu pula sebabnya guru perlu melakukan berbagai cara untuk memahami anak, sehingga data dan informasi yang lengkap dapat diketahui guru.

d. Keterampilan untuk melaksanakan berbagai cara atau teknik memahami anak seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Misalnya keterampilan melaksanakan wawancara; pengamatan dan pendekatan terhadap anak. Untuk itu guru perlu latihan terus menerus tanpa mengenal bosan, kecewa atau putus asa.

e. Keterampilan dalam mengadministrasikan data anak, dan kemampuan menerjemahkan data sehingga menjadi informasi yang jelas tentang anak.

B. Masalah Belajar Murid SD

1. Definisi Masalah Belajar

Sebelum membahas lebih lanjut tentang masalah belajar, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi masalah belajar. Apakah itu masalah ? banyak ahli mengemukakan pengertian masalah. Ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang (1) tidak disukai adanya, (2) menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, (3) ingin atau perlu dihilangkan.

Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut : “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

“Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya” ( Anita E, Wool Folk, 1995 : 196 ).

Menurut ( Garry dan Kingsley, 1970 : 15 ) “Belajar adalah proses tingkah laku ( dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan”.

Dari definisi di atas nampak bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang disebabkan oleh karena individu mengadakan interaksi dengan lingkungan. Akan tetapi ternyata tidak semua perubahan perilaku merupakan hasil belajar, artinya ada perubahan perilaku yang dipandang sebagai bukan hasil belajar.

Sedangkan menurut Gagne (1984: 77) bahwa “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”.

Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut : Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.

Merujuk kepada pengertian masalah belajar di atas serta terhadap kriteria keberhasilan belajar murid, maka jenis-jenis masalah belajar di sekolah dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami

1. Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.

2. Ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memiliki I Q 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.

3. Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapat pendidikan atau pengajaran khusus .

4. Kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, maka seolah-olah tampak jera dan malas.

5. Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui, dan sebagainya.

6. Sering tidak sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam waktu yang cukup lama sehingga kehilangan sebagian besar kegiatan belajarnya.

2. Mengidentifikasi murid yang diperkirakan mengalami masalah belajar.

Murid yang mengalami masalah belajar, dapat diidentifikasi melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar.

1. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar adalah alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana murid telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya murid-murid dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Ketentuan ini merupakan penerapan dari belajar tuntas ( mastery learning ) yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap murid dapat mencapai hasil belajar sesuai yang diharapkan jika diberi waktu yang cukup dan bimbingan yang memadai untuk mempelajari bahan yang disajikan. Ketentuan penguasaan bahan ditentukan dengan menetapkan patokan, yaitu presentasi minimal yang harus dicapai oleh murid yang belum menguasai bahan pelajaran sesuai dengan patokan yang ditetapkan, dikatakan belum menguasai tujuan pengajaran. Murid yang seperti ini digolongkan sebagai murid yang mengalami masalah belajar dan memerlukan bantuan khusus, sedangkan murid yang sudah menguasai secara tuntas semua bahan-bahan yang disajikan sebelum batas waktu yang ditetapkan berakhir, digolongkan sebagai murid yang sangat cepat dalam belajar. Mereka ini patut untuk mendapatkan pelajaran tambahan.

2. Tes Kemampuan Dasar

Setiap murid mempunyai kemampuan dasar atau kecerdasan tertentu. Tingkat kemampuan ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan menggunakan tes kecerdasan yang sudah baku.

Diasumsikan bahwa anak normal, memiliki tingkat kecerdasan (IQ) antara 90-109. Hasil yang dicapai murid hendaknya dapat mencerminkan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Murid yang kemampuan dasarnya tinggi akan mencapai hasil belajar yang tinggi pula. Bilamana seseorang murid mencapai hasil belajar yang lebih rendah dari tingkat kecerdasan yang dimilikinya, maka murid yang bersangkutan digolongkan sebagai yang mengalami masalah belajar. ( menurut Gagne 1967 ).

3. Skala Sikap dan Kebiasaan Belajar

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Sebagian dari hasil belajar, ditentukan oleh sikap dan kebiasaan yang dilakukan oleh murid dalam belajar. Kebiasaan belajar menunjuk pada bentuk dan pola perilaku yang dilakukan terus menerus oleh murid dalam belajar.

Sebagian dari sikap kebiasaan belajar murid, dapat diketahui melalui pengamatan yang dilakukan di dalam kelas. Misalnya, dalam hal mengerjakan tugas-tugas, membaca buku, membuat catatan dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan belajar murid. Tetapi pengamatan biasanya terbatas pada sikap dan kebiasaan yang diterima oleh alat indera. Untuk mengungkapkan sikap dan kebiasaan yang lebih luas telah dikembangkan beberapa alat berupa “skala sikap dan kebiasaan belajar”. Alat ini akan dapat mengungkapkan derajat cara murid mengerjakan tugas-tugas sekolah, sikap terhadap guru, sikap dalam menerima pelajaran dan kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan belajar.

3. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar Murid di Sekolah Dasar.

Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan ( manifestasi ). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.

Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.

Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :

a. Faktor-faktor Internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain :

1) Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya)

2) Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.

3) Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri, tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.

4) Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

b. Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari :

1) Sekolah, antara lain :

a) Sifat kurikulum yang kurang fleksibel

b) Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)

c) Metode mengajar yang kurang memadai

d) Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

2) Keluarga (rumah), antara lain :

a) Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis

b) Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya

c) Keadaan ekonomi.

Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif.

Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya.

Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.

4. Upaya-upaya Membantu Murid dalam Mengatasi Masalah Belajar.

Murid yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan murid. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah dengan :

a. Pengajaran Perbaikan.

Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran perbaikan merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik.

Pengajaran perbaikan dapat dilakukan kepada seseorang atau sekelompok murid yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka.

Dibanding dengan pengajaran biasa, pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus, karena bahan, metode dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi murid. Di samping itu, bekerja dengan murid-murid yang menghadapi masalah belajar banyak sedikitnya berbeda dengan murid yang mengikuti pelajaran di kelas biasa. Kalau di dalam kelas biasa unsur emosional dapat dikurangi, sedangkan murid yang sedang mengalami masalah belajar justru sebaliknya, ia mungkin dihinggapi perasaan takut, cemas, tidak tentram, bingung, bimbing dan sebagainya

b. Kegiatan Pengayaan

Kegiatan pengayaan merupakan satu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang murid yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah dan memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan sebelumnya. Murid yang cepat belajar hampir selalu dapat mengerjakan tugas-tugas lebih cepat dibandingkan dengan teman-temannya dalam waktu yang ditetapkan.

Kecepatan belajar yang tinggi akan mempunyai dampak positif apabila murid merasa dirinya diperhatikan dan dihargai atas keberhasilan dan kemampuannya dalam belajar. Selanjutnya ia akan berusaha untuk mewujudkan dirinya secara lebih baik sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Sebaliknya kecepatan belajar akan mempunyai dampak negatif apabila murid merasa kurang diperhatikan dan kurang dihargai. Mereka cenderung patah hati, tidak bersemangat, jera dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan murid-murid lain, mereka mungkin menjadi murid yang menganggu atau salah tingkah. Hal ini mungkin akan dapat menimbulkan menurunnya prestasi belajar mereka.

c. Peningkatan Motivasi Belajar

Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas bila motor tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi motornya lemah, aktivitas yang terjadi pun lemah pula.

Motivasi berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh murid yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat baginya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar seperti itu disebut motivasi instrinstik atau motivasi internal. Jadi munculnya motivasi instrinstik dalam belajar, karena siswa ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam tujuan pembelajaran.

Motivasi intrinstik disebut pula motivasi murni, karena muncul dari dirinya. Oleh karena itu sedapat mungkin guru harus berusaha memunculkan motivasi intrinstik dikalangan para siswa pada saat mereka belajar, umpamanya dengan cara menjelaskan kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan dan kebutuhan siswa.

Memunculkan motivasi intrinstik dikalangan siswa-siswa kelas rendah memang agak sulit karena pada umumnya mereka belum menyadari akan pentingnya pelajaran yang mereka pelajari.

Motivasi belajar pada hakikatnya merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Apabila motivasi belajar kuat, maka kegiatan belajarnya akan meningkat, sebaliknya apabila motivasinya lemah maka kan melemahkan kegiatan belajarnya, dan berakibat mutu hasil belajarnya akan rendah. Artinya tujuan belajar tidak tercapai sebagaimana mestinya.

Kuat lemahnya motivasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (intrinstik) maupun yang berasal dari luar diri siswa (ekstrinstik). Motivasi belajar yang sangat diharapkan terjadi yaitu motivasi yang timbul dari diri siswa itu sendiri, sebab motivasi ini memiliki kekuatan yang lebih lama, lebih baik, dibandingkan motivasi lainnya. Motivasi yang diupayakan oleh guru juga sebenarnya harus diarahkan kepada terjadinya motivasi dari dalam (instrinstik). Mengapa demikian ? apabila siswa sudah memiliki motivasi pribadi dalam belajar

Maka sebenarnya tugas guru akan lebih ringan, sebab siswa akan belajar dengan sendirinya, misalnya dengan mencari sendiri, melakukan sendiri, menemukan sendiri dengan bantuan guru yang sedikit. Hal ini berarti tujuan belajar dapat tercapai dengan lebih efektif.

Pengajaran di kelas harus mempertinggi motivasi instrinstik sebanyak mungkin. Ini secara sederhana berarti bahwa guru harus mencoba agar siswa-siswi mereka tertarik dengan materi pelajaran yang mereka sampaikan, dan kemudian dalam menyampaikan materi ini harus dengan cara-cara menarik yang membuat siswa merasa puas dan menambah keingintahuan pada materi itu sendiri.

Menurut Wlodkowski (1982: 361) salah satu cara untuk mengorganisasi informasi yang jumlah banyak adalah memilih faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi pada saat-saat yang berbeda dalam proses belajar.

Sebagai seorang guru, motivasi berprestasi mungkin dapat membantu dalam merencanakan kegiatan-kegiatan, dimana siswa membutuhkan untuk berprestasi dan menghindari kegagalan. Menurut teori ini siswa yang bermotivasi tinggi untuk mencapai prestasi akan merespon dan menantang lebih banyak terhadap tugas-tugas yang diberikan guru, mendapat nilai-nilai yang baik, memberikan umpan balik yang jitu dan benar, menyampaikan masalah-masalah yang baru dan tidak biasa, dan mencari kesempatan untuk mencoba lagi. Guru dan staf sekolah lainnya berkewajiban membantu murid meningkatkan motivasinya dalam belajar. Prosedur yang dapat dilakukan adalah dengan:

1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Murid akan terdorong untuk belajar apabila ia mengetahui tujuan-tujuan belajar yang hendak dicapai

2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat murid

3) Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan

4) Memberikan hadiah (penguatan) dan hukuman yang bersifat membimbing, yaitu yang menimbulkan efek peningkatan bilamana perlu.

5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid, serta antara murid dengan murid.

6) Menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu seperti suasana yang menakutkan, mengecewakan, membingungkan , dan menjengkelkan

7) Melengkapi sumber dan peralatan belajar

8) Mempelajari hasil belajar yang diperoleh

d. Peningkatan Keterampilan Belajar

Prosedur dapat dilakukan diantaranya ialah dengan:

1) Membuat catatan waktu guru mengajar

2) Membuat ringkasan dari bahan yang dibaca

3) Mengerjakan latihan-latihan soal

e. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik

Setiap murid diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif. Tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya murid yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang tidak diharapkan. Apabila murid memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang tidak baik dikhawatirkan murid tidak akan mencapai prestasi belajar yang baik, karena hasil belajar yang baik itu diperoleh melalui usaha yang dilakukan oleh murid yang baik. Sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana, terutama oleh guru-guru, dan orang tua murid. Untuk itu murid hendaknya dibantu dalam hal:

1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar

2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik

3) Mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun di rumah

4) Memilih tempat belajar yang baik

5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang baik

6) Membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan

C. Peranan Guru dalam Memahami Karakteristik Anak dalam Mengatasi Masalah Belajar Murid

Sebagai seorang guru yang profesional harus memahami betul karakteristik anak, karena setiap murid khususnya di sekolah dasar memiliki perbedaan antara satu dan lainnya. Disinilah peran dan fungsi serta tanggung jawab guru di SD, selain mengajar juga perlu memperhatikan keragaman karakteristik. Perilaku murid, sehingga peran guru bukan hanya sebagai pengajar akan tetapi guru juga mempunyai tugas sebagai motivator atau pendorong, sebagai pembimbing dan memberi fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan.

Apabila guru menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya maka masalah belajar bagi murid SD akan mudah diatasi. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan anak. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada:

1. Mendidik anak dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

2. Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai.

3. Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri.

Demikianlah, dalam proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian murid. Ia harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang murid untuk belajar secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.

Selanjutnya dalam peranannya sebagai direktur (pengarah) belajar, hendaknya guru senantiasa berusaha untuk menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi anak untuk belajar.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa motif berprestasi mempunyai korelasi positif dan cukup berarti terhadap, pencapaian prestasi belajar. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar banyak ditentukan oleh tinggi rendahnya motif berprestasi. Dalam hubungan ini guru mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar. Ada 4 hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi yaitu:

1. Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar

2. Menjelaskan secara konkrit kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran

3. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik di kemudian hari

4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

Sebagai direktur belajar pendekatan yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar tidak hanya melalui pendekatan instruksional akan tetapi disertai dengan pendekatan pribadi. Melalui pendekatan pribadi ini diharapkan guru dapat mengenal dan memahami murid secara lebih mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya. Dengan perkataan lain, sebagai direktur belajar guru sekaligus berperanan sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar. Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk:

1. Mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun kelompok

2. Memberikan penerangan kepada murid menangani hal-hak yang diperlukan dalam proses belajar

3. Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya

4. Membantu setiap murid dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar